Melayu Nyasar

Just a grumpy blog for mumble.

2009/11/08

Move.....

I move this blog to wordpress for easier comment moderation.

I must admit that I am not a real backpacker, at least not a fully backpacker. I have done travel a lot without backpack and usually every travel would be planned carefully. Last month, me and 2 of my friends TCS and AG planned to go to triangle city in Kansai region for tourist spot (Nara, Kyoto and Osaka) by a car. Too bad, TCS canceled the plan cause he was broke as he said, and we must canceled everything because we don't have any driver to drive the car (TCS is the only one from us who has car drive license).


興福寺 (Koufuku-Ji) in Nara

AG never went to the Kansai's triangle city before and very excited with the plan. As an alternative transportation, he started to browse the net to search for 乗り放題(norihoudai) ticket train and he found it in the JR (Japan Railway) program. In commemoration of 鉄道の記念 (Tetsudou no Kinen-Railway Day), JR group was selling special tickets that allow unlimited travel along all its lines in Japan for 3 days. That was just appropriate with our plan, 3 days unlimited travel ticket for 3 days travel plan. The only one problem was our lodging for 2 night during the travel and we only found 2 kinds of lodge types with lower price, capsule hotel and manga cafe. But we would decide that later, after arrived in the city.


二月堂 (Nigatsudou - The Hall of second month) in Todaiji complex area.

By carrying our backpack, we embarked our journey to Nara, an ancient city which was served as Japan capital city during Nara period (710-784). As the Buddhism influence was very strong along the Nara period, there are lots of Buddhist temples you can find in Nara e.g. Kofukuji, Saidaiji, Kasuga Jinja, Nigatsudou, but we went directly to the most famous one, 東大寺 (Todaiji). The Todaiji's 大仏殿 (Daibutsuden-Great Buddha Hall) was claimed as the largest wooden building in the world, an ancient one and still stand until now. Meet the 大仏 (Daibutsu-Large Buddha) statue when you enter the hall, it might be the most ancient large Buddha statue ever made (752) in Japan, although it has been rebuild after destroyed by fire twice.


Shika (deers) between tourists in foreground of Todaiji main gate.


大仏殿 (Daibutsuden - Great Buddha Hall) inside Todaiji complex area

You can visit 奈良公園 (Nara Kouen-Nara Park) which is located near by The Todaiji complex area. You can find a lot of 鹿 (Shika-Deer) in there and feed them with 鹿煎餅 (shika senbei-deer crackers). Well, the shika deer looks very tame if you feed them, even you can touch and flatter them.


心斎橋筋(Shinsaibashi-suji) at night, the Osaka's main shopping area.

When it was getting dark, we start to discuss about our lodge and decide to search it around Shinsaibashi district, Osaka. We took local train toward Osaka station and move to subway train with destination Shinsaibashi. After walked about 1 hour, we meet a Japanese who deal advertising leaflet about manga cafe (or internet cafe) and asked him about the manga cafe whose he promoted. When we ask about thrift price, he told us (by whispering) to go to Dotonbori area and showed a manga cafe with special price and cheaper than the manga cafe that he promoted. Wow, I never expected that he would be very kind to give us information about his manga cafe's competitor. Maybe he just did the arubaito (part-time job), but I am still gratefully give him my appreciate. Thanks to him, we enjoyed 1200 yen/8 hours in manga cafe with internet connection, games, free manga to read, free drinks and shower (with surcharge), and also a place to rest sleep through the night.


道頓堀 (Dotonbori) at night, the manga cafe is located on the right side of street.


Next posting: Kyoto

Sejak tinggal di Jepang, aku sama sekali tak pernah menyentuh cosole permainan Sony Playstation apalagi memainkannya. Untuk memainkan game Winning Eleven (WE) alias Pro Evolution Soccer 2009 (PES 2009), aku terpaksa menggunakan komputer. Masalahnya, main WE atau PES tanpa lawan tanding (non komputer) masih sulit dilaksanakan karena kenalan yang punya hobi main game ini masih kurang. Satu-satunya orang yang kukenal suka main WE/PES adalah PrS dan hanya dengan dia aku sering berlatih tanding. Sedangkan teman lain yang bernama WLN kayaknya kurang hobi main WE/PES karena hampir tak pernah kulihat memainkannya.



Di tempat kerja part-time, salah seorang kenalan Jepang bernama Shuuhei ternyata suka juga main WE, ditambah lagi Nguyen anak Vietnam karyawan sesama part-time sekaligus tetangga di Kaikan (dormitory) juga hobi main WE lewat console Playstation 2. Ditambah WLN, jadilah kami bersepakat main bersama dengan mengambil tempat tanding di aula Kaikan. Nguyen mengajak 3 teman Vietnam-nya, kami bertiga dari Indonesia dan Shuuhei, keseluruhannya 8 orang membuat turnamen dengan sistem gugur.


Terbiasa main PES 2009 dikomputer ternyata berakibat buruk dalam memainkannya lewat console PS2. Walaupun level permainanku cuma medioker, tapi jarang-jarang kalah dibantai banyak gol. Dalam turnamen kali ini, aku harus gugur dibabak awal melawan Nguyen yang akhirnya menjadi juara dengan skor telak 4-1. Aku merasa aneh sekali memainkan game yang sama lewt console PS2, baik dari segi reflek jari dalam menekan tombol maupun gerakan para pemain sepak bola dalam PES 2009 yang menurutku berbeda antara versi komputer dan PS2.

Pertandingan final yang diakhiri adu penalti

PrS yang sama-sama gugur dibabak awal dan terbiasa memakai PES 2009 versi komputer mengusulkan untuk turnamen berikutnya supaya menggunakan sistem home-away. Para pemain yang terbiasa menggunakan PS2, bermain dengan komputer untuk pertandingan away. Begitu juga sebaliknya dengan kami yang terbiasa menggunakan komputer sebagai pertandingan kandang. Yah, paling tidak kalau sampai kalah dibantai dengan banyak gol dengan sistem ini, tak ada alasan lagi untuk berkelit tentang level bermain PES yang ternyata sangat rendah.

NB.
Kain sarung yang kupakai ternyata menimbulkan pertanyaan dan keingin tahuan Shuuhei dan Nguyen. Apakah kain sarung sama dengan celana panjang? sarung sama dengan baju?

Seorang teman menanyakan padaku tentang lebaran di Jepang
"Kiape kabarnye,de jepun mikak lebaran juak ke???"
Arti: "Gimana kabarnya, di jepang kalian lebaran juga nggak???"


Muslim dan Muslimat yang belum pernah mengalami merayakan Idul Fitri di luar negeri, terutama di negara yang mayoritas penduduknya non-muslim, tentu bertanya-tanya seperti apa kondisi dan cara merayakannya. Seperti juga di Jepang yang notabene kebanyakan penduduknya beragama Buddha KTP alias Shinto abangan (tidak pernah ibadah ke Kuil Budha ataupun Jinja secara reguler kecuali ada perlu), umat muslim yang merayakan Idul Fitri mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan gaya hidup penduduk mayoritas.


Sebelum sholat Ied dimulai, para jamaah di luar ruangan Conference Hall Act City Hamamatsu yang tak kebagian tempat di dalam ruangan.

Tahun ini (lebaranku yang ke 4 di Jepang), perayaan Idul Fitri 1 Syawal 1430 H bertepatan pada hari minggu tanggal 20 September 2009 menyebabkan jumlah para peserta sholat Ied membelundak. Bagaimana tidak, hari minggu adalah hari libur yang bertepatan pada Gorenkyuu (hari libur beurutan 5 hari) dari sabtu hingga rabu menyebabkan banyak muslim yang bekerja ataupun sekolah memiliki waktu luang. Di kota tempatku tinggal sendiri yang panitianya menyediakan ruang Conference Hall di Act City cukup kewalahan menampung para jamaah sholat Ied sehingga banyak jamaah yang terpaksa sholat di luar ruangan. Malah menurut temanku yang ikut sholat Ied di Nagoya, penyelenggara mendapatkan ijin melaksanakan ibadah sholat di lapangan luar daerah terbuka yaitu Shirokawa Park. Sungguh hebat panitia sholat Ied Nagoya ini, untuk mendapatkan ijin ibadah dalam jumlah jamaah besar di dalam ruangan saja sulit, mendapatkan ijin pemda Nagoya untuk melakukannya di lapangan luar dengan resiko menarik perhatian orang banyak ternyata berlangsung dengan sukses. Anda tahu sendiri, di Indonesia saja intel bertebaran dimana-mana ketika orang ramai berkumpul mendengarkan ceramah atau pidato, apalagi di luar negeri yang notabene penduduknya mendapatkan pasokan informasi dari media barat yang penuh dengan isu terorisme dan isu pendatang gelap. Sukses buat panitia sholat Ied Nagoya!


Suasana setelah sholat Ied 1 Syawal 1430 Hijriah di Act City

Bagaimana dengan para muslim yang bekerja disaat lebaran, baik Idul Fitri maupun Idul Adha? Seperti yang kita ketahui, Jepang adalah negara industri yang sangat disiplin. Walaupun kita bisa saja minta ijin atau cuti di hari H satu atau setengah hari, tetapi jika skedul perusahaan sedang sibuk, jangan harap bisa memperoleh ijin. Hal yang sama juga berlaku bagi pelajar yang sedang menuntut ilmu di Jepang. Jika bentrok dengan waktu kuliah, silahkan bolos kuliah. Hanya saja tidak semua dosen yang terlalu ambil pusing dengan absen, jadinya pandai-pandai diri mengatur waktu. Kalaupun siswa yang bersangkutan masih bersekolah di SD, SMP atau SMU, mungkin dapat meminta pengertian guru sekolah bersangkutan. Karena itu, jika hari lebaran bertepatan dengan jadwal sholat Ied bisa dibilang merupakan berkah bagi mereka yang bekerja atau bersekolah.

Suasana sholat Ied 1430 Hijriah di Shirokawa Koen, Nagoya (foto oleh Iwan)

Setelah sholat Ied, kira-kira apa yang dilakukan? Jika mengacu pada kondisi di Indonesia terutama di kampung-kampung, bisa dipastikan sangat meriah dipenuhi dengan ajang silaturrahmi antar tetangga, sahabat dan handai tolan. Di jepang (dan kukira sama dengan di negara berpenduduk mayoritas non-muslim lainnya), umat muslim biasanya berkumpul di Masjid (jika ada) atau rumah salah seorang kenalan sambil berbagi makanan khas lebaran yang jarang disantap seperti ketupat. Tahun ini aku sendiri ikut serta di Masjid untuk bersilaturrahmi bersama umat muslim lainnya (walaupun yang kukenal dari para jamaah hanya belasan orang). Di Tokyo sendiri biasanya pihak KBRI menyediakan tempat sholat Ied sekaligus ruang untuk bersilaturrahmi setelah sholat Ied atau juga Dubes RI untuk Jepang mengadakan open house, lengkap dengan sajian penganan khas lebaran juga.


Suasana setelah sholat Ied 1 Syawal 1430 Hijriah di Shirokawa Park, Nagoya (foto oleh Iwan)


Setelah itu barulah masing-masing orang pulang ke rumah dan menghubungi pihak keluarga di Indonesia, baik orang tua maupun sanak saudara dengan telepon ataupun lewat jaringan internet. Bagaimanapun juga, suasana lebaran bagi yang jauh dari orang tua terasa sepi. Karena itu berbahagialah bagi anda yang berlebaran di kampung halaman dan dapat langsung mencium tangan orang tua selagi sempat dan masih memiliki waktu. Aku sendiri hanya bisa membayangkan wajah kedua orang tuaku sambil bersilaturrahmi lewat telepon dengan beliau.

Akhir kata, saya mengucapkan selamat Idul Fitri 1430 H. Mohon ma'af lahir dan bathin jika ada kata yang salah selama saya menulis di blog ini. Semoga Allah SWT mengijinkan kita kembali bertemu dengan bulan Ramadhan yang penuh rahmat tahun depan.

Duhai Indonesiaku
Maafkanlah diriku
Karena telah meremehkanmu
Setelah berpisah 4 tahun yang lalu

Melihat semrawutnya lalu lintas mu
Merasakan kacaunya tatanan sosial masyarakatmu
Meragukan keamanan yang terlihat semu
Membuatku merendahkanmu

Duhai Indonesiaku
Sejak kembali kepangkuanmu
Aku selalu merasa resah dalam bahaya
Selalu berhati-hati dan waspada

Mataku melirik kanan kiri dengan curiga
Khawatir akan marabahaya
Oleh orang-orang disekitar
Entah copet, maling, atau rampok mencari mangsa

Duhai Indonesiaku
Dibanding negeri tempatku sekarang menuntut ilmu
Aku memang telah melecehkanmu
Tetapi aku telah terlanjur tetap mencintaimu

Maafkan aku Indonesiaku

Mudik! Ya, pulang ke negri asal tercinta. Memang sih, bisa pulang juga karena ada urusan dokumen dan tetek bengek lainnya. Tetapi bagaimanapun juga setelah empat tahun merantau ke negara orang tetap saja pulang untuk pertama kalinya mempunyai kesan tersendiri. Ada kesan positif maupun negatif yang kurasakan ketika mencoba mengikuti alur kehidupan kota pinggiran Jakarta, bisa dibilang sebagai upaya adaptasi ulang lingkungan yang pernah kujalani. Tulisan ini tak lebih dari sekedar cara pandangku terhadap perubahan setelah 4 tahun tak pernah berjumpa dengan suasana Indonesia.

Keluarga

Tentu saja tujuan utamaku pulang adalah bertemu dengan keluargaku yang hanya kudengar suaranya saja lewat telepon selama 4 tahun, walaupun alas an pulang secara resmi adalah mengurus dokumen. Ayahku terlihat semakin tua, ibuku juga demikian, kakak tertuaku masih berkerja layaknya pegawai perusahaan swasta Jakarta yang bolak-balik tempat bekerja dan rumah pagi dan petang, adikku yang berstatus mahasiswa tingkat dua tapi lebih keranjingan nge-band dibandingkan belajar hingga membuat orang tuaku geleng-geleng kepala (aku sendiri bingung menghadapinya). Sempat terpikir pulang berkunjung ke Belitung, tapi tak kesampaian. Malah saudara sepupuku datang dari Belitung dan membawa oleh-oleh Mie Bongpin untuk bahan dasar pembuatan Mie Rebus Belitung buatan ibuku yang enaknya ampun-ampunan itu. Selama dirumah, perut dan lidahku benar-benar dimanja oleh masakan ibuku terutama masakan Belitung yang tak pernah kurasakan lagi selama 4 tahun terakhir.


Surat Ijin Mengemudi (SIM)

Salah satu dokumen yang diurus adalah memperpanjang masa pemberlakuan SIM yang telah habis masanya beberapa bulan yang lalu. Aku baru tahu kalau SIM mati kurang dari satu tahun bisa diperpanjang (di Jepang, tenggang waktu hanya 6 bulan saja). Seperti yang telah kutulis mengenai proses memperoleh SIM sebelumnya di kantor urusan SIM Jepang (Menkyou Center), kali ini aku ingin agar data-data diriku dalam SIM Indonesia tertera dengan benar agar tak mendapatkan dampratan lagi dari si polantas Jepang. Nyatanya tetap saja tinggi badanku tak sesuai dengan kenyataan. Kali ini aku komplain pada pak polisi tentang tinggi badanku yang tertera di SIM lebih pendek 5 cm dari tinggi asliku. Pak polisi yang kukomplain malah bilang, "Enggak penting itu, yang penting nama dan alamatku benar!" Malah bapak bertubuh pendek yang menerima SIM sebelumku bilang tingginya di SIM tertera lebih dari semestinya. Kalau misalnya tinggi badan tidak penting, buat apa tertera dengan jelas di SIM? Bukannya sebaiknya dihapus saja dari pada menimbulkan persoalan dikemudian hari (seperti aku misalnya). Karena masih panjang dibelakangku orang mengantri untuk mengambil SIM, terpaksa aku mundur (selain karena komplainku tak direspons). Sekarang aku terpaksa memikirkan strategi baru untuk menjawab pertanyaan yang kira-kira akan dilancarkan oleh polisi Jepang nanti tentang tinggi badan yang berbeda saat mengurus SIM Jepang.


Foto diambil dari lantai 5 Ritz-Carlton Jakarta Pacific Palace, sekitar jalan Sudirman.


Transportasi dan lalu lintas

Masya Allah! Itu yang terlintas dalam pikiranku ketika pertama kali ikutan boncengan dibelakang motor dan melihat cara berkendara sepeda motor orang-orang disekitar. Aku sudah menduga kalau supir angkutan kota (angkot) akan berkelakuan seenaknya, akan tetapi pengendara motor rupanya tak kalah gila-gilaannya. Mereka meluncur mengendarai motor bebeknya bagaikan pilot pesawat zero Jepang pada masa perang pasifik yang tak takut mati melancarkan serangan Kamikaze, bertaruh nyawa demi sampai tujuan lebih dulu dari pengendara lainnya. Benar-benar "mengagumkan" sekaligus membuat hati miris melihat pengendara sepeda motor begitu gagah berani, berani mati, rela bertaruh nyawa demi hal remeh seperti itu. Aku masih takut naik motor sendiri untuk mengarungi rimba jalanan dengan hukum padang pasirnya.

Selain itu juga aku melihat betapa hukum jalanan para pengendara yang berlaku di Jepang dan Indonesia sangat jauh berbeda, terutama yang kucermati adalah penggunaan klakson. Klakson agak jarang digunakan di Jepang, tapi di Indonesia ternyata berkebalikan. Klakson menjadi alat untuk berkomunikasi sesama pengendara bagaikan bebek ber-kwek-kwek satu sama lain. Misalnya saja di tikungan yang arah berlawanannya tak terlihat. Jaman dulu selalu digunakan kaca cembung yang ditempatkan persis di sudut tikungan (sama dengan Jepang hingga sekarang) untuk mencegah kecelakaan. Akan tetapi sekarang kaca cembung malah tak terlihat sama sekali di tikungan, entah memang tak terpasang atau lebih parahnya lagi dicuri oleh maling tak tahu diri yang tak perduli betapa tindakannya bisa merenggut nyawa orang lain. Sebagai gantinya sebelum belok ditikungan, klakson dibunyikan keras-keras supaya pengendara di arah berlawanan sadar ada pengendara lain menuju dirinya sehingga dia lebih berhati-hati. Belum lagi klakson dan kedipan lampu untuk menyatakan "aku mau duluan" yang justru artinya "silahkan duluan" di aturan tak tertulis pengendara Jepang. Kalau pengendara Jepang menyetir di Jakarta, dapat dipastikan dia tidak akan menabrak orang lain, melainkan ditabrak orang.

Paling tidak aku melihat ada sedikit perbaikan manajemen PJKA dalam hal pembelian tiket kereta listrik. Di setiap stasiun kereta terlihat orang antri membeli tiket dan di setiap pintu masuk stasiun terlihat petugas perobek (peremas?) karcis untuk memastikan setiap penumpang membeli karcis naik kereta listrik. Walaupun masih jauh dari sempurna, paling tidak ada usaha untuk "memaksa" penumpang tidak naik gratisan walaupun dengan tiket kereta yang luar biasa murah. Hal lain yang kulihat tak mengalami perubahan berarti adalah gerombolan penumpang atap gerbong kereta. Sekali lagi aku melihat betapa gagah berani dan berani mati bertaruh nyawa demi hal remeh tak mau berdesakan didalam gerbong. Apakah orang Indonesia masih sama gagah berani dan mau bertaruh nyawa demi hal yang lebih positif seperti memberantas korupsi dan ancaman pembesar yang menteror mereka, dengan keberanian yang sama ketika menghadapi masalah lalu lintas?

I have posted this stuff in my other blog in Bahasa Indonesia. This posting is just an English version, because I'm just to tired (or lazy) to make a new vision.

This year is my second time to do (富士登山) (Fujitozan - climb mount Fuji) after I did it before at 2005 without any satisfaction, because I couldn't make it to watch sunrise from the peak of mount Fuji. It was cloudy and I found that the peak had shrouded with mist that you would never saw anything beyond 5 meters. So this year, I join my other 3 mates to conquer mount Fuji and fulfill my hope to watch the sunrise from the peak.


Colorful and enthusiast faces, just before starting to climb


Maybe our preparations were not very good, at least I have been checked the weather forecast that during our climb schedule days, the weather will be 曇り時々晴れ (cloudy occasionally clear). I hope that the clear weather will overcome the cloudy. Everything seems to be fine and we were starting to climb about 7 o'clock in afternoon from 五合目 (Gogoume - the fifth station), Fujinomiya. Nothing special happen during our climb until we were arriving at 九合目 (Kyuugoume - the ninth station) when the storm has come. One of my friend feels not so well and decided to quit and wait until the storm over then return to Gogoume. The rest three of us, including me, still curious to conquer the mount even in the rainstorm and keep our trudge continued.


At the peak of mount Fuji. Shrouding by rainstorm

We were reaching the 3776 meters of mountain peak and found that rainstorm was not passing over yet, it was more and more wilder than before and forced us sheltering in a Jinja (Shinto's shrine) with another hikers. After waiting 5 hours and there was no sign that the rainstorm will over yet, we decide to hike down before dusk and dark have shrouding us and make it harder to trek down the mountain.


During hiking down. Storm was not passing over yet

Slowly but sure, we set out from the Jinja and trek down step by step toward Kyuugoume, Hachigoume and finally Nanagoume. From Nanagoume, pouring rain has became drizzled although it still strong wind but our trek was getting easier. At Gogoume, we reunite with our friend that had return earlier and all of us can go home from rainstorm at the peak of mount Fuji safe and sound.


Four of us made it off mount Fuji and reunite at Gogoume, safe and sound with relieved faces

How about watch sunrise from mount Fuji's peak? Just forget it! We didn't find a clear weather, let alone watch the sunrise. Glad to reach my dormitory without any serious injury, only some scratches and contusion on my knee. Well, I think I will hate stairs for three days, at least. :(

NB.
I found this news later and it happened at the same day with our climbing day. I feel very lucky that I am still breathing right now. Thanks God....